Belajar Menerima “The New Normal” Versi Rayi RAN

Anggota RAN satu ini dikenal sangat produktif, dari mulai menciptakan lagu, duet bareng para penyanyi muda dan senior, konser bareng RAN, kolab fashion, safe to say we just had to find out what our fave musician is doing during this pandemic. Rayi Putra Rahardjo kita ajak virtual foto dan video. Fun fact, did you know that he married his high school sweetheart for almost 10 years now? And along the way, he was blessed with a son yang sekarang usianya udah hampir 5 tahun.

Rayi shared ke Letter F mengenai pandangannya terhadap ‘The New Normal’ yang disebabkan oleh pandemi Covid19. We found out what keeps him inspired during this #dirumahaja moment.

So, tell us about your daily routines selama ngurung diri di rumah?
“Dari bangun, lanjut sarapan, abis itu nemenin Budi sarapan dan kita pasti sempatkan keluar untuk naik sepeda. Jam 9 pagi biasanya Budi ada sekolah online, jadinya pasti selalu nemenin dia sekolah dan bantu buat tugas prakarya sampai jam 12. Nah, setelah itu kita bebas melakukan kegiatan masing-masing. Gue kadang main game, atau bikin lagu kalau lagi merasa terinpirasi. Lanjut nemenin Budi baca buku dongeng sampai dia tidur. And of course I would spend quality time with my wife di malam hari untuk nonton film atau series sambil ngobrol sampai tidur.”
Supaya nggak bosan, what do you guys usually do?
“Iya, gue kadang keluar untuk beli makanan take away dan itu gue bawa tempat sendiri untuk mengurangi packaging makanan dan plastik yang mereka kasih. Karena kita juga udah punya restoran-restoran langganan yang kita jadikan rutinitas untuk beli makanan take away. Selain itu tetap berkarya, tetap bikin lagu, tetap belajar musik juga dari online platforms termasuk YouTube untuk hal maupun informasi baru.”
WFH ada enak dan nggaknya, nih. Yang paling sering diungkapkan beberapa orang: terkadang jadi malas. Nah, biasanya apa yang dilakukan untuk menghindari rasa malas?

Bener banget, sih, WFH bisa bikin kita males dan sering banget procrastinate. Karena kebetulan gue seorang musisi, cara gue untuk menanggulangi itu adalah tetap berkarir dan berkarya. Gue nyalain komputer dan peralatan musik gue untuk memaksakan diri pokoknya gue harus bikin sesuatu. Apakah itu akan jadi atau nggak, bukan masalah. Yang penting tetap berusaha untuk memaksa otak bekerja. Nah, setelah gue berhasil mendapatkan sebuah karya, biasanya otak dan badan gue jadi bergairah untuk mengerjakan hal-hal lainnya juga. Mungkin karena terstimulasi.”

Corona udah berlangsung dari akhir Maret dan masih sampai saat ini, ada yang bilang supaya stay sane terima aja bahwa memang ini definisi dari “normal yang baru”. Pendapat kamu gimana?

Yes, memang mau nggak mau kita harus menerima bahwa ini the new normal at least for the time being. Kita nggak ada yang tahu pastinya kapan kita akan kembali ke kehidupan yang normal. Jadi, gue cukup setuju untuk menerima keadaan dan nggak denial. Being in denial doesn’t help, that negative energy yang juga jadi berdampak negatif bagi diri kita sendiri. Jadi, mending kita berusaha untuk terus positif, terus berusaha menerima keadaan dan tetap nggak menyerah. Harus diingat kalau ikhtiar dan pasrah adalah dua hal yang berbeda. Pasrah itu menyerah dan nggak mau berusaha, sedangkan sekarang banyak dari kita sedang berusaha untuk tetap positif, berusaha untuk tetap melakukan hal-hal yang bisa memberikan dampak bagi diri kita ataupun orang lain. Apapun bisa kita usahakan asalkan kita ada niat, jadi untuk tetap positif, penting untuk tetap menerima dan berusaha, that’s why I do.”

Editor: Galuh Tathya
Writer: Dela Naufalia
Photographer: Vicky Melly
Digital Imaging: Rendra Martin
Stylist: Sasqia Ayuningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beauty Fest
clozette
en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish
%d bloggers like this:
INSTAGRAM FOLLOW ON INSTAGRAM
Follow on Instagram