Bule Rasa Lokal: Ladislao Carranza

Yang hobi nonton acara TV dan juga scrolling FYP di TikTok, nggak mungkin kalau belum kenal sama Ladislao Camara Carranza atau yang akrab dikenal dengan panggilan “Bang Bule”. Ladis yang sekarang punya kesibukan bikin konten di TikTok dan juga Instagram, cerita banyak ke Letter F about all of his struggles trying to make a living with a budgeted money when he first arrived in Jakarta. Ladis sekarang lagi sibuk taping sinetron ‘Raden Kian Santang’ sebagai Prabu Wangi Sumaatmadja, yang merupakan sebuah tantangan karena harus ngomong bahasa baku di tiap scene.

You have more than 300k followers on TikTok now, but how did you first make your TikTok account? Do you also want to try other TikTok trends?
“Awal mula main TikTok karena keisengan pas lockdown di Jakarta beberapa bulan lalu. Setelah itu gue coba menjawab salah satu pertanyaan dari netizen dan saat itu followers gue masih 30k dan menurut orang-orang cara menjawab gue itu lucu padahal gue jawab juga seadanya dan akhirnya followers gue nambah jadi 100k. Then, one of my TikTok videos of me answering a question went viral in Bali hanya karena gue jawab dengan menggunakan bahasa bali. From there, I gained more than 200K followers in 3 days. Kalau mengikuti tren, of course gue bisa. Cuma I prefer to follow my identity dan mempertahankan karakter gue. Walaupun mungkin pada akhirnya gue akan coba tren dance, gue akan tetap menyelipkan budaya Indonesia di video-video gue.”
If you have the chance to show people out there that you’re than just “Bang Bule Merakyat”, what would you do?

“Memang mungkin banyak orang yang lebih tanya gue Ladis as ‘Bule Merakya,  tukang marah-marah di TikTok. Cuma mereka nggak tahu bahwa gue itu punya lebih banyak lagi ketimbang itu. I have more than this yang kalau ada kesempatan, gue akan tunjukin siapa Ladislao sebenarnya. Gue yang dari dulu belajar teater, belajar ilmu silat, sampai pernah jadi boxer juga, pastinya kepingin coba proyek film atau proyek lainnya untuk menunjukkan apa yang ada di dalam diri gue ke masyarakat.”

You shifted from being an athlete to a public figure, what’s the first thing you noticed in terms of differences seeing as both need constant rehearsals?
I always follow my motto that we have to ‘push our limit’. Jujur sekarang gue udah nggak bisa lagi jadi atlet karena cedera, walaupun sekarang gue masih hobi olahraga. Kalau di dunia entertainment, apa yang gue lakukan sekarang is that I’m pushing my limits. Gue masih ekplor sampai mana limit gue di dunia ini, so that I always push my limits without complaining even once. Maka dari itu gue berusaha membuat nama gue yang berawal dari media sosial, dan semoga ke depannya nama gue bisa lebih tinggi lagi karena diakui karyanya, dan membuat gue semakin terdorong untuk eksplor.”
When you finally get the chance to have a role in movies, what kind of characters that you want to get?

“Peran-peran yang pingin banget gue dapat adalah peran-peran yang menurut gue sebuah tantangan untuk gue sendiri. Kalau antagonis, of course, biasa dan gampang buat gue karena gue memang hobinya, as what people know, marah-marah. Peran pertama adalah peran sebagai homoseksual, kedua, peran yang mempunyai mental disorder, dan ketiga, peran orang psycho. I really want to get these roles because I want to try to feel what they feel by portraying these characters. Mendalami peran itu buat gue adalah sebuat tantangan dan itu udah menjadi target di dalam karir gue.”

Editor: Galuh Tathya
Writer: Dela Naufalia
Photographer: Vicky Melly
Digital Imaging: Ari Angga
MUA: Nadia Renata
Stylist: Sasqia Ayuningtyas
Wardrobe: Legiteamate, Groundwell, Yarnspindle, available at The F Thing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beauty Fest
clozette
en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish
%d bloggers like this:
INSTAGRAM FOLLOW ON INSTAGRAM

thefthingworld

Load More... Follow on Instagram