Debut Twilo Records dalam Ranah Musik di ‘Midnight Conscious’ dari RAYROCC

Produser serta musisi hip-hop Ray Haesra atau yang lebih dikenal dengan moniker RAYROCC memperkenalkan sebuah EP dengan unsur autobiografi terbarunya bersama label Twilo Records yang berjudul ‘Midnight Conscious’.

RAYROCC, seorang rapper asal Indonesia yang baru pulang dari perantauannya di Los Angeles, Amerika Serikat langsung dengan lugas menceritakan kisah hidupnya secara jujur, dan dengan kemarahan. Dengan segudang cerita yang dialaminya selama di Los Angeles, cukup untuk mematik dirinya untuk menciptakan sebuah karya dan lagu-lagunya serupa otobiografik. Dan apa yang ingin disampaikan oleh RAYROCC melalui karya lagu yang dia tulis cukup terlegitimasi secara nyata, dan bukan hanya sekedar bualan semata. Sebagai seorang Asia, musisi ini secara langsung menuangkan segala emosi yang dirinya rasakan ketika harus melewati tindakan diskriminasi, hingga tindakan represif aparat terhadap dirinya ke dalam EP yang berisi empat lagu ini.

Midnight Conscious’ merupakan sebuah EP yang terasa kontemplatif untuk RAYROCC sendiri. Dengan tema yang lumayan gelap seperti mental issue, rasisme, hingga kematian, RAYROCC melalui lagu-lagu dari EP ini RAYROCC mencoba untuk memberi warna asli dari dirinya kepada musik yang dia ciptakan. Namun, melalui subjek yang lumayan bleak ini RAYROCC meninggalkan para pendengar dengan pesan positif dan hopeful bahwa bila dirinya dapat melewati masa tergelap dari hidupnya dengan sukses, kita semua juga pasti akan baik-baik aja. Lagu-lagunya ditulis ‘one shot one kill’, dengan spontanitas seorang komposer solo yang terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Dari aransemen beat, dinamika rima, gaya repetan, hingga mixing dan mastering.

How did you first decide to create this EP? What’s the behind stories of it?
The reason why I created the EP is because, firstly, gue bikin album ini ada 4 versi. Pertama gue nggak suka karena terlalu ngepop, kedua terlaly swaggy, yang ketiga, I just thought it was weird, yang terakhir, akhirnya gue berpikir I want to tell everyone what I’m good at. Since I’m great at storytelling, I tried to deliver a message that I’m good with my pass and I’m just going for the future. ‘Intro’ told a story that I miss LA. Banyak hal terjadi di masa itu. Masalah keluarga, dan gue lagi bangkrut total. Tapi gue segera menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri gue. While my singleCulture Shocked’ is just about fitting in. Gue merasa gue belom masuk ke society di sini. Jujur, gue masih meraba tata karma, budaya dan lain lain. Third song is telling a story about my suicidal past, first verse I wrote it in the hospital, but then I changed the topic to become hope. Because at the end of the day, if I can live through it then you all can live through it as well. The fourth song is about hope pretty much. I want people around me to not be sad and just to party in my funeral when my day comes.”
Biasanya pesan apa yang lo ingin sampaikan lewat lirik yang lo tulis?

Awareness for mental illness and also hope. Pretty much it. Because I suffered from ADHD and bipolar disorder and we live in a society where social media is a must if you got a thousand of followers. From that I thought it would do a lot if we could help a lot of people overcoming their hardships with these illness. Also PSA from me: if you have someone who needs help, go help them out before it’s too late.”

Hip hop scene di Indonesia masih jauh berbeda perkembangannya dari hip hop scene di Amerika pastinya, what’s your view on this as someone who has an identity yang terbentuk dari kerasnya hip hop scene di west coast?
“Kalau menurut gue, kita bukannya masih jauh. We’re just different. Because technically, hip hop scene disini juga unik. Masih banyak artis-artis yang lagunya belom gue kulik. It’s a never ending thing for me. Gue selalu discover dan belajar suatu yang baru tentang hip hop lokal di Indonesia. So I thought they’re two different lanes. It’s like apples and oranges

Editor: Galuh Tathya
Writer: Dela Naufalia
Photographer: Vicky Melly
Digital Imaging: Ari Angga
MUA: Nadia Renata
Stylist: Sasqia Ayuningtyas
Wardrobe: Legiteamate, available on The F Thing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The Ordinary
clozette
en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish
%d bloggers like this:
INSTAGRAM FOLLOW ON INSTAGRAM

letterf.id

Load More... Follow on Instagram