Eksplor Konsep Makanan Unik Bareng Owner Burgushi: Josh Says

If you’re a foodie, then you must have the tendency to seek great food, this one is definitely a must try for you. Burgushi is the first ever burger sushi in Indonesia. Hadir sejak 2017, nama Burgushi langsung mencuri perhatian para food enthusiasts. Restoran mungil di kawasan Panglima Polim ini menggabungkan konsep makanan western dan juga Jepang. Our curiosity drove us to invite the CMO of Burgushi, Josh Says, to discuss about where the out of the box idea comes from originally.

Josh Says has begun acquiring Burgushi this year after it was created and owned by Wilson Tjandra back in 2017, yang berhasil menyulap burger menjadi separuh sushi yang cukup menyita perhatian dengan membangun lapak kuliner pertamanya dengan Burgushi di kios foodcourt sampai bazar to bazar. Sampai di tahun 2019, Wilson memutuskan untuk melepas Burgushi dan memberikannya kepada Josh, yang pada saat itu menjalankan bisnis brand agency untuk untuk diakuisisi Tanori, subholding dari Tancorp. Sampai pada awal 2020, Josh bersama temannya yang lain took over Burgushi yang memiliki 12 outlet pada saat itu, sampai sekarang berkembang hingga 23 outlet.

When mixing these two concepts together, what first triggered the whole idea of it?
“Memang menggabungkan makanan western dengan makanan Jepang itu bukan suatu hal yang common dan tentu challengenya adalah bagaimana cita rasa yang digabungkan itu bisa cocok. Akhirnya kita membuat 3 pilihan alternative dari menu-menu kita yaitu tim burger, tim sushi dan tim chicken. Fokus tim chicken ini untuk menjangkau kesukaan dari orang-orang Indonesia, yaitu makan nasi dan ayam.”
What do you wish for people to have in mind whenever they come to your restaurant?
“Kita berharap agar mereka dapat menemukan sebuah cita rasa yang unik dan juga enak. Itu adalah dua kata kuncinya. Burgushi ini kan makanan kreatif, jadi harapan kita adalah kita percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bisa mengeksplor kreatifitas mereka sampai akhirnya ter-trigger saat mereka mencoba Burgushi. Entah pada akhirnya mereka mencoba membuat bisnis baru atau men-trigger mereka di dalam askpek-aspek lain.”
Whenever there’s a new concept, there’s always pros and cons. How do you deal with the cons and how do you learn from it?

“Di dalam setiap bisnis apapun itu, even the biggest brand yang sering kita makan pun, pasti ada pro dan contra. Which is fine! It’s good. Kita jadi jauh lebih mudah belajar dari kritik. Yang kita pelajari dan cara kita untuk menghadapinya adalah dengan terus sentatiasa mengevaluasi dan juga melihat kebutuhan pasar, apa yang sebenarnya mereka inginkan. PR kita adalah untuk terus menciptakan menu-menu lain yang menjadi menu-menu flagship seperti salmon mentai, yang banyak sekali orang gemari, yang cocok untuk masuk ke dalam cita rasa setiap orang yang mencoba Burgushi.”

What’s the biggest struggle from creating a whole new concept of food and how did you overcome it?

“Dalam membuat suatu yang radikal, tentu ada yang lebih banyak kontranya. Kontra-kontra ini yang sering kali membuat kita bisa maju atau bisa membuat kita terkadang merasa lelah ketika menghadapi hal itu. Poin utamanya adalah mempunya sudut pandang dan fokus kepada propose yang sesuai supaya kita tetap bisa keep on going. Di dalam membuat bisnis, kita juga harus senantiasa melihat perkembangan trend, karena trend itu juga sangat penting — seperti apa kebutuhan masyarakat saat ini, rasa apa yang mereka suka untuk dapat kita sesuaikan.”

Do you mind sharing some tips for those who want to start running their own business like you did?
“Pertama yang paling penting adalah kalian harus punya tujuan kenapa kalian memulai bisnis tersebut. Setelah udah tau tujuannya, itu akan mempermudah kalian untuk berkembang. Selain tujuan, kalian juga harus melihat market. Seperti apa market yang ada saat ini dan bagaimana produk yang kalian jual bisa suitable di market. Yang ketiga, kalian harus punya kekuatan di sisi operational, marketing dan juga finance. Ini adalah tiga pilar yang selalu dibutuhkan di bisnis apapun. Jadi, lebih dari sebuah mimpi, kalian perlu memiliki sebuah step-step yang membuat mimpi kalian menjadi kenyataan.”

 

Editor: Galuh Tathya
Writer: Dela Naufalia
Photographer: Vicky Melly
Digital Imaging: Ari Angga
MUA: Nadia Renata
Stylist: Sasqia Ayuningtyas
Wardrobe: Angan Label, Legiteamateavailable at The F Thing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beauty Fest
clozette
en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish
%d bloggers like this:
INSTAGRAM FOLLOW ON INSTAGRAM
Follow on Instagram