Kenalin, Ini Jerome Kurnia.

Namanya udah mulai dikenal sejak main di beberapa film dengan karakter yang berbeda. Dari mulai Robert Suurhof di Bumi Manusia, lanjut ke Nakula yang fasih bahasa Spanyol di Senior, Yugo di Dilan, 1991, atau Chicco Salim atau Chuck Bass versi lokal di Gossip Girl Indonesia. Karakter-karakter inilah yang membuat artis keturunan Jerman-Indonesia yang baru berusia 26 tahun ini mulai ngeh kalau he lives for acting.

 

Ada 4 aspek yang paling inspiratif untuk tiap aktor. Pertama, kita ngomongin sutradara. Fave lo siapa?
“Banyak banget yang gue belum berkesempatan untuk kerja bareng. Garin Nugroho, karena beliau kalau menceritakan sangat indah. Mas Angga, mas Joko Anwar, dan masih banyak lagi. Lalu Andri Cung, walaupun kita belum terlalu mengenal satu sama lain, tapi kalau secara story telling dia sangat indah pembawaannya.”
Kedua: aktor, lo paling penasaran adu akting sama siapa?
“Kalau aktor dalam negri, salah satunya yang gue hormati dan banyak memberi gue pelajaran itu Reza Rahardian, karena dia tiap memerankan sesuatu itu bagus banget. Donny Damara, walaupun kita pernah satu proyek tapi belum pernah satu frame, gue pengen banget bisa memainkan satu peran yang intim bareng mas Donny, terus ada juga Bu Christine Hakim, mas Lukman Sardi, Aryo Bayu dan banyak lagi. Mungkin mbak Tara Basro, dia keren banget, setiap main itu total banget, mbak Dian Sastro, dan masih banyak lagi.”
Ketiga: pendalaman karakter. Cerita soal karakter paling menarik yang selama ini udah diperankan.

“Semua peran pasti berkesan karena setiap peran itu berbeda-beda. Tapi menurut gue, film pertama pasti yang paling berkesan. Pertama terjun ke dunia film, pertama dapet kesempatan main bareng orang-orang hebat dimana gue belajar banyak dari mereka. Juga, karena film ini berdasarkan dari buku yang sangat legendaris oleh Pramoedya Ananta Toer. Jadi gue merasa itu yang paling berkesan karena itu merupakan pertama kali dan proyek yang gue sayang banget.”

Keempat: pengakuan. Lo sempat dinominasi di beberapa ajang penghargaan untuk Pemeran Pendukung Terbaik dan juga Pendatang Baru Terbaik.

“Menurut gue, penghargaan dari sebuah festival merupakan suatu berkah, tapi untuk gue pribadi akan jadi bahaya kalau itu dijadikan tujuan—karena tujuan lebih bagus untuk eksplorasi peran di luar comfort zone, missal eksplor acting sebagai non-straight, gue yang straight disuruh memerankan peran yang non-straight. Kalau selalu main sebagai orang yang karakternya mirip dengan diri sendiri, gue nggak akan bisa keluar dari comfort zone.”

Editor: Galuh Tathya
Writer: Dela Naufalia
Photographer: Ganang Arfiandi
Digital Imaging: Rian Pandu
MUA: Nadia Renata
Stylist: Sasqia Ayuningtyas
Wardrobe: Vercline, Kainkan, and Legiteamate, available at TheFThing.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Beauty Fest
clozette
en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish
%d bloggers like this:
INSTAGRAM FOLLOW ON INSTAGRAM
Follow on Instagram